Impian Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan

Portallampung.co, Tanggamus – Seorang remaja yang introvert dan berpenampilan sederhana telah menyelesaikan pendidikan SMK. Dialah Ardi Handoko yang memilih SMK sebagai penutup wajib belajar 12 tahun. Dia merasa lulusan SMK lebih unggul daripada SMA karena di SMK ada program khusus yang melatih kreativitas tertentu. Jurusan yang telah diampunya adalah teknik mesin yang memang menjadi hobbynya. Dibalik introvertnya Ardi memiliki cita-cita yang sangat besar.

Terlahir dari keluarga sederhana di desa Margoyoso Kec. Sumberejo Kab. Tanggamus, Ardi merupakan anak terahir dari tiga bersaudara. Dari segi pendidikan, kedua kakaknya hanya menyelesaikan pendidikan sampai di tingkat SD dan SMP yang kini telah berkeluarga dan tinggal bersama keluarga barunya. Kehidupan kedua kakaknya pun tak jauh beda dari orangtuanya. Ia mulai berfikir suatu saat akan menjadi harapan besar bagi kedua orangtuanya. Apalagi dari kecil dia sudah dididik untuk menjadi orang sukses hingga dapat diandalkan untuk mengurusi usia senja bagi orang tuanya.

Ari Handoko (Tengah), Anak Yang Orang Tuanya Mendapat Manfaat PKH.

Kedua orang tua Ardi adalah petani kopi yang hasilnya bergantung pada musiman (tahunan). Itupun tak sepenuhnya menjamin akan bisa diandalkan. Karena lokasi kebun kopi yang mereka rawat berada di lereng Gunung Tanggamus yang secara hukum masih dalam jangkauan hutan lindung. Kalau suatu hari ada tindakan dari pemerintah mereka hanya bisa pasrah menyerahkannya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka biasa melakukan usaha lain seperti buruh ataupun hasil penjualan dari usaha kecil-kecilan.

Jarak yang jauh dan terjal membuat ayah Ardi, Sumarman terkadang harus menginap di gubuk dalam hutan. Karena jika harus pergi-pulang setiap hari, waktu dan tenaganya hanya akan habis untuk perjalanan. Sang Ibu, Suliyem tidak bisa sepenuhnya menemani ayah untuk bekerja, karea ia juga harus menyiapkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan anaknya yang masih sekolah. Hanya sesekali saja Ibu Suliyem menemani suaminya, terutama ketika datang masa panen. Untuk mengisi hari-hari di rumah Ibu Suliyem mengolah singkong hasil tanaman sendiri untuk dibuat keripik. Hasilnya dijual ke warung dan pasar untuk tambahan biaya sekolah anaknya.

Ketika Ardi lulus dari SMP pada tahun 2015 yang lalu, orang tuanya sempat bingung karena anaknya hanya mau melanjutkan ke SMK. Karena, jika melihat ekonomi keluarganya, untuk sekolah di SMK membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Bayangan akan biaya sekolah membuat mereka harus berfikir keras untuk menemukan bagamana caranya. Namun bayangan gelap itu ditutupi rapat-rapat oleh orang tuanya dan dengan sedikit memaksakan diri mereka mendaftarkan anaknya ke SMK Muhammadiyah Gisting.

Dengan niat yang sungguh-sungguh untuk memperjuangkan masa depan anaknya, di tahun itu pula nama Ibu Suliyem resmi menjadi peserta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) Kec. Sumberejo. Tahun itulah untuk pertama kalinya bansos PKH Kec. Sumberejo dimulai.

Entah kebetulan atau tidak, inilah rencana Tuhan. Inilah jawaban do’a mereka ketika mereka sangat membutuhkan pasti ada jalan untuknya. Andai Ardi tidak melanjutkan sekolah, sudah pasti nama Ibu Suliyem akan dihapus dari calon penerima bansos PKH. Dengan bahagia Ibu Suliyem mengatakan “Alhamdulillah, terimakasih PKH sangat membantu kami, disaat kami yang terbatas biaya ini ingin memperjuangkan pendidikan bagi anak kami”.

Pendampingan PKH dilaksanakan melalui Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) yang dilaksanakan setiap sebulan sekali. Pendamping PKH Kec. Sumberejo, Joko Nopriyanto menjelaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah merubah mindset KPM akan pentingnya pendidikan, kesehatan, hingga pengelolaan ekonomi keluarga. Sejak awal, pendamping telah menanamkan pemahaman bahwa pemenuhan kewajiban oleh KPM PKH tidak hanya didorong oleh bansos saja, melainkan juga karena kesadaran tentang manfaat pendidikan dan kesehatan. Hal ini membuat Ibu Suliyem penuh semangat untuk memotivasi anaknya agar berprestasi dan menyelesaikan pendidikan disekolahnya. Setidaknya, mereka berusaha agar anaknya tidak putus sekolah sampai lulus agar bansos PKH tetap lancar.

Tiga tahun sudah terlewati, tiba juga saat yang dikhawatirkan Ibu Suliyem. Ardi akan lulus dari SMK, artinya komponen PKH Ibu Suliyem akan habis. Begitupun dengan bansos PKH juga akan berahir. Dorongan dan motivasi kedua orang tua membuat Ardi bersungguh-sungguh menyelesaikan wajib belajar 12 tahun. Setidaknya sedikit prestasi di sekolahnya dapat menjadi bukti bahwa perjuangan orang tuanya tidak sia-sia. Dari sinilah dilema mulai menyerang psikologis Ardi. Dia tak tahu harus bagaimana setelah lulus SMK. Ingin rasanya mengembangkan kemampuan yang telah didapatkan selama ini, tapi terpangkas oleh modal. Jangankan untuk buka usaha, untuk menyelesaikan wajib belajar 12 tahun saja terbantu oleh PKH. Hari-harinya semakin tidak jelas dan semakin membebaninya. Tak mungkin seperti saat ini meminta uang lagi untuk kebutuhan pribadi. Dia sudah merasa malu untuk itu. Cita-cita Ardi sebenarnya ingin melanjutkan kuliah atau minimal kursus sebelum terjun ke dunia kerja.

Tapi entah lah, apakah itu hanya akan tetap menjadi mimpi ataukah akan menjadi kenyataan. Sifatnya yang introvert membuatnya tidak mudah berbagi keluh kesah dengan orang lain termasuk keluarganya. Kedua orang tuanya pun tak sanggup memahami apa yang terjadi. Tapi naluri seorang Ibu dapat melihat cita-cita anaknya. Ibunya tahu kalau Ardi sangat ingin melanjutkan kuliyah. Tapi keadaan ekonomi yang sangat tidak memungkinkan membuat Ibunya lebih baik diam.

Disuatu hari, Ibu Suliyem menerima telefon dari pendamping PKH yang menanyakan anaknya. Melalui obrolan singkat, Ibu Suliyem tiba-tiba menangis. Ternyata pendamping telah mengantarkan kabar bahagia bahwa Ardi diterima di sebuah Universitas melalui program bidik misi. Untuk kedua kalinya, entah kebetulan atau tidak, inilah rencana Tuhan. Esok harinya Pendamping dibantu Supervisor PKH, Nella Kurnia Anggrahini ikut mendampingi Ardi menuju Universitas Tulang Bawang untuk registrasi dan pemberkasan. Senyum bahagia dari seorang Ardi yang hampir putus asa dan mencoba membunuh cita-citanya mengiringi perjalanan itu.

Hari demi hari dilewati Ardi sebagai Mahasiswa UTB. Dia rela menjadi marbot agar bisa tinggal di Masjid. Hal itu dilakukan untuk mengurangi biaya hidup sekaligus mengontrol kehidupan kota yang liar. Sempat disuatu hari Ardi merasa tidak mampu menjalani kehidupan sebagai anak kuliyahan. Dia pulang ke kampung dan tidak mau lagi melanjutkan kuliyahnya. Dia hanya duduk termenung dan bersikokoh untuk tidak melanjutkan kuliyahnya. Berbagai usaha dari orang tuanya tidak berpengaruh pada keputusan Ardi. Ahirnya berkat dukungan dari pendamping dan supervisor PKH yang mencoba memberikan wawasan dari jangka pendek hingga jangka panjang, akhirnya Ardi tersadar dan mau melanjutkan kuliyahnya lagi. Mereka menjelaskan bahwa mundur dari kesempata baik ini bukanlah solusi, karena kesempatan baik tidak akan datang dua kali. Ini adalah hal yang wajar terjadi pada semua anak seusia Ardi yang sedang berjuang menuju cita-citanya. Apalagi Ardi berasal dari kampung yang jauh dari keramaian seperti di kota besar. Hingga saat ini pendamping dan supervisor PKH masih aktif memantau perkembangan Ardi, meskipun dia sudah dinyatakan sebagai alumni anak KPM PKH. “ini adalah kesempatan baik untuk mengangkat harkat dan martabat keluarga, membahagiakan dan membanggakan mereka karena telah memiliki anak seperti kita” Ungkap Nella saat menemui Ardi di rumahnya.

Kisah ini mengingatkan kita betapa pentingnya pendidikan bagi perkembangan anak. Melaui Pendidikan, kita akan mendapatkan kemampuan, pengetahuan, dan wawasan yang menjadi modal penting untuk masa depan. Kita tentu sudah bisa menjawabnya, apa hal pertama yang dilihat ketika kita mengajukan surat lamaran perkerjaan? Apa yang kita butuhkan ketika ingin memulai suatu bisnis atau usaha? Tentu saja Pendidikan, kemampuan, pengetahuan, dan wawasan yang kita butuhkan. Banyak orang berfikir bahwa pendidikan itu penting, tapi tidak sedikit pula yang berfikir bahwa pendidikan itu tidak penting. Apalagi bagi masyarakat yang tinggal dipedesaan ataupun daerah terpencil, mereka menganggap pendidikan itu tidak penting. Bagi mereka, lebih baik langsung bekerja dari pada sekolah. Alasan utamanya karena jika bekerja mereka bisa langsung menghasilakan uang, sedangkan sekolah hanya akan membuang-buang uang saja. Di tambah lagi dengan kondisi saat ini yang sangat susah mencari pekerjaan.

Perubahan perilaku KPM PKH tentang arti pentingnya pendidikan dapat diperoleh melalui P2K2. Dalam modul pengasuhan dan pendidikan anak dijelaskan bagaimana menjadi orang tua yang lebih baik, memahami perilaku anak usia dini, memahami cara anak usia dini belajar, dan membantu anak agar sukses di sekolah. Semoga Kisah ini bermanfaat bagi kita semua dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi kehidupan. Keadaan ekonomi yang sulit bukan alasan untuk berhenti meraih pendidikan sebagai bekal di kehidupan yang akan datang. Salam PKH. (*)

Bagikan Artikel Ini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *