Inses di Pringsewu, KPAI: Tak Bermoral!


Pringsewu – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sesalkan kejadian inses yang menimpa seorang anak AG 18 tahun di Pringsewu Lampung. Kekerasan seksual dengan pelaku sedarah dilakukan oleh ayah, kakak dan adik kandungnya selama setahun ketika anak AG berusia 17 tahun.

Kejadian kekerasan seksual di ranah privat sangat menyesakkan dada, karena orang tua, kakak dan adik laki-laki yang seharusnya melindunginya justru melakukan tindakan tak bermoral, kekerasan seksual. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua KPAI Pusat, Rita Pranawati, MA, saat dihubungi via WhatsApp, Sabtu (23/2/19) sore.

KPAI berharap ada pemberatan hukuman bagi orang tua pelaku kejahatan seksual ini, yaitu tambahan sepertiga dari hukuman kejahatan seksual yaitu 15 tahun. Oleh sebab itu Rita mengingatkan, bahwa perlindungan anak membutuhkan keterlibatan orang sekampung.

“Artinya, tetangga penting untuk memiliki kepedulian kepada anak-anak disekelilingnya. Jika tetangga mengetahui ada kejadian yang diduga ada potensi kerentanan kekerasan terhadap anak, maka yang bersangkutan dapat melaporkan kepada babinkamtibmas dan RT RW setempat,” ujarnya.

Sehinggal hal-hal seperti kejahatan seksual insest, lanjutnya, dapat segera diketahui dan dicegah. KPAI berharap anak korban mendapatkan rehabilitasi dan trauma healing yang maksimal. Sangat tidak mudah bagi anak lepas dari trauma akibat kekerasan seskual yang dilakukan oleh ayah, kakak dan adiknya.

“Kedepannya, kepastian kelanjutan pengasuhan untuk kepentingan terbaik bagi anak AG mengingat anak AG adalah anak disaibilitas menjadi sangat penting diupayakan oleh aparat penegak hukum dan pekerja sosial yang mendampingi korban. Semoga kasus-kasus seperti ini tidak terulang kembali, Amin,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa, pelaku persetubuhan sedarah terhadap perempuan bernisial AG, seorang berkebutuhan khusus/disabilitas/keterbelakangan mental berusia 18 tahun yang terdiri dari ayah kandung bernisial JM (44), kakak kandung berinsial SA (23) dan adik kandung berinsial Y (15) di Pekon Panggung Rejo Kecamatan Sukoharjo di tahan di Polres Tanggamus.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan gelar perkara, beberapa hal terungkap baik itu motif para tersangka bahkan terdapat pengakuan salah seorang tersangka yang berusia paling muda yaitu Y, dimana prilaku sex menyimpang yakni juga menyetubuhi kambing dan sapi.

Kemudian persetubuhan sedarah tersebut dilakukan ketiga tersangka kurun waktu setahun lamanya, dimana setelah istrinya JM meninggal dunia sekitar tahun 2018.

Mewakili Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, SH. Kanit PPA Ipda Primadona Laila, SH mengungkapkan bahwa pihaknya kemarin, Jumat (23/2/19) menerima pelimpahan pelaku persetubuhan dalam keluarga dimana pelakunya adalah ayah dan 2 anaknya laki-lakinya berikut barang bukti.

Korban merupakan ketiga 3 di keluarga tersebut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui dalam kurun waktu 1 tahun, ayahnya mengaku 5 kali menyetubuhi anak kandungnya itu. Kemudian kakaknya mengaku 120 kali dan adiknya mengaku 60 kali.

“Para tersangka melakukan persetubuhan itu seluruhnya didalam rumah yang mereka huni tepatnya di Pekon Panggung Rejo Kecamatan Sukoharjo,” kata Ipda Prima Dona saat memberikan keterangan, Sabtu (23/2/19) siang.

Lanjutnya, persetubuhan sedarah tersebut semua dilakukan dirumah keluarga tersebut, adapun motif dari JM selaku ayah korban yakni karena melihat kondisi anaknya mengalami kekurangan. Atas perbuatan itu, ketiga tersangka dijerat pasal Ancaman hukuman untuk Pasal 81 ayat 3 UU RI No 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.

“Ancaman minimal 5 tahun maksimal 15 tahun ditambah 1/3 dari ancaman maksimal sebab dilakukan oleh orang tua, wali, orang-orang yang mempunyai hubungan darah,” pungkasnya. (RSD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *