Jelang USBN, Siswa dan Pegiat Lingkungan Bersihkan Pantai

Bandar Lampung – Menjelang Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), puluhan siswa dan beberapa organisasi pecinta alam mengisi liburan dengan aksi bersih pantai.

Aksi peduli lingkungan ini tak hanya diikuti pelajar ddan mahasiswa. Tapi juga, umum pegiat lingkungan, melakukan aksinya di Jalan Ikan Kembung, Gudangagen, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung.

Pantai yang kerap disapa dengan Ancolgen oleh masyarakat sekitar itu memang dipenuhi dengan sampah plastik dan sejenisnya. Sehingga menjadi sebuah titik pusat dalam aksi yang mulai dilaksanakan Sabtu (9/3).

Salah satu pelajar SMK Negeri 4 Bandar  Lampung, M Khalil Razan Faza (16) mengungkapkan, aksi tersebut sejatinya bukan hanya untuk sekedar mengisi waktu luang menjelang USBN, akan tetapi menjadi sebuah langkah awal untuk memulai pergerakan kepedulian terhadap lingkungan.

“Saya berharap di Kota Bandarlampung itu memiliki tempat wisata yang layak. Dalam artian, layak untuk kebersihannya,” ujar Faza.

Sementara, salah satu pendiri komunitas peduli sampah, M Indra menyampaikan, gerakan bernama #makansampah ini merupakan sebuah upaya untuk merangkul pemuda di Kota Bandar Lampung agar lebih menyadari akan bahayanya terhadap dampak sampah yang menumpuk di lingkungan.

“Kita akan terus melakukan aksi ini, seperti slogan kami ‘kurangi teori perbanyak aksi’ akan terus menerus lakukan clean up di setiap minggunya. Karena kami mengakui, teori dan wacana cukup memakan waktu.” terang Indra.

Ia beranggapan, jika pergerakan seperti ini memang sejak dahulu seringkali dilaksanakan. Tetapi, ia meyakini, justru dimulai dari generasi milenial seperti ini tentunya mendukung gerakan secara alami untuk berkampanye di media sosial masing-masing.  Dengan itu akan cepat menumbuhkan reaksi di masyarakat.

“Memang sulit, tapi kita selalu optimis. Sementara di luar kota pun banyak komunitas pergerakan seperti ini. Nah, itu juga yang menjadi salah satu dasar motivasi kami.” kata Indra.

Ia juga menyampaikan, pergerakan ini mungkin  menerapkan opsi lain selain aksi clean-up seperti, bank sampah atau hal yang lain. “Kendala saat ini si di pendanaan sudah jadi biasa. Kalau untuk aksi-aksi seperti ini kan tidak terlalu memakan biaya, untuk kantung sampah kita bisa sukarela. Air minum dan makanan untuk istirahat bisa bawa masing-masing.” tutupnya. (ikka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *