Kak Seto Beri Perhatian Khusus Kasus Inses di Pringsewu

Tanggamus – Kasus kekerasan seksual yang menimpa AG (18) anak penyandang disabilitas warga Kabupaten Pringsewu, oleh M (45) ayahnya, SA (24) kakaknya dan YF (16) adiknya mendapat perhatian khusus dari Dr. Seto Mulyadi atau yang lebih akrab dipanggil Kak Seto selaku Ketua Lembaga Pemerhati Anak Indonesia (LPAI) Pusat.

Kak Seto bahkan datang langsung ke Mapolres Tanggamus, untuk memastikan proses hukum berjalan baik dan ingin bertemu langsung dengan tersangka kekerasan seksual yang satu diantaranya masih dibawah umur, dan berkomunikasi dengan tersangaka, Kamis (28/2/19).

Didampingi oleh Kapolres Tanggamus, AKBP. Hesmu Broto, Kasatreskrim, AKP. Edi Qorinas, SH., dan Kanit PPA Polres Tanggamus, IPDA. Dona, ia berkomunikasi dengan YP (16) diruang penyidik Unit PPA Polres Tanggamus dalam ruangan tertutup.

“Kami turun langsung untuk melihat keadaan kasus yang viral ini dan memberikan apresisi setinggi-tingginya kepada Kapolres Tanggamus serta jajaranya yang telah menangai kasus ini sebaik-baiknya. Artinya, kasus ini benar-benar ditangani, juga dukungan dari masyarakat misalnya Perlindungan berbasis masyarakat yang aktif memberikan laporan jika terjadi kasus seperti ini, ” ujar Kak Seto saat diwawancarai.

Dia juga menjelaskan jika dirinya juga telah bertemu langsung dengan pelaku yang masih anak-anak untuk mengetahui latar belakangnya, kondisi psikologisnya dan lainnya. Dia berharap, pelaku bukan saja mendapat penanganan sangsi pidana tapi juga mendapatkan rehabilitasi kepada para pelaku sehingga tidak ada kecendrungan untuk berbuat hal serupa.

“Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa, pelaku inses sebelumnya telah memiliki kontak seksual secara terlarang dan dapat diditeksi dari korban-korban yang lain, sehingga diduga pelaku incest ini menurut penelitian resiko untuk mengulangunya lagi pilaku incest ini dapat terjadi dibandingkan dengan yang belum pernah memiliki pengalaman incest tadi,” jelasnya.

Rehabilisasi, lanjutnya, dapat menjadi solusi selain hukuman. Dia mencontohkan bahwa di negara-negara maju, pelaku incest tersebut biasanya yang meminta untuk direhabilisasi untuk mencegah agar mereka tidak mengulangi pilaku incest tersebut. (rsd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *