Kelompok 12, Anomali Resistensi Koloni Gajah Liar di TNBBS

Meski berhasil menekan intensitas konflik gajah dan manusia akibat laju deforestasi yang meranggas hingga ke habitasi satwa termasuk gajah. Balai TNBSS dan sejumlah NGO menemukan fakta baru koloni gajah yang relatif peka dibanding gajah lainnya. Gajah-gajah ini sudah amat resisten dan agresif dengan berbagai bentuk halauan ketika mereka masuk ke permukiman dan perkebunan warga. Sebuah anomali baru. Manusia bahkan sudah dianggap sebagai musuh. ‘Mereka’; kelompok 12.

Tanggamus – Sisa-sisa deforestasi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) untuk perkebunan baru maupun ilegall logging memang masih terlihat. Kawasan yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia itu memang belum sepenuhnya pulih. Riak-riak perambahan pun masih kerap terjadi.

Disaat proses recoveri terus dilakukan oleh petugas TNBSS, WWF dan sejumlah NGO lain, konflik gajah dengan manusia memang sudah terlanjur kerap terjadi.

Kasus konflik sudah tak lagi berbilang, beberapa kasus bahkan memakan korban. Disisi lain, upaya perburuan gading gajah juga tak sedikit terjadi, beberapa gajah ditemukan mati akibat keracunan dengan kondisi gading yang sudah hilang.

Upaya kesiapsiagaan pemangku hutan dan NGO dalam membantu masyarakat menghalau gajah untuk kembali ke hutan memang sudah optimal hingga bahkan membentuk masyarakat pengawas yang melakukan ronda secara intens. Termasuk pula upaya masyarakat menerapkan kearifan lokal dengan memanggil hewan terbesar itu dengan sebutan ‘mbah‘ atau ‘liman‘ sebagai bentuk penghormatan untuk hidup berdampingan.

Meski demikian, luasnya hutan yang terlanjur dirambah termasuk sekitar 70 persen habitat gajah, menjadikan kawanan gajah itu tetap saja merangsek ke permukiman dan perkebunan warga sebagai konsekuensi dari kawasan TNBBS yang sejak lama merupakan koridor dari wilayah jelajah gajah.

 

Seekor gajah yang sudah dipotong gadingnya ditemukan mati akibat diracun di perbatasan TNBBS. foto: Mongabay

 

Dan kini, berdasarkan data survei monitoring tahun 2017 populasi gajah sumatera diwilayah IPZ-TNBBS (Intensive Protection Zone) oleh BBTNBBS dan WCS dengan menggunakan metode Fecal DNA/ analisis DNA kotoran gajah, dan menghasilkan data bahwa kepadatan gajah sumatra diestimasi sebesar 9 gajah/100 km2 (95% CI 5,4-14,9) dengan ukuran populasi 122 gajah (95% CI 88-219).  Dari jumlah itu,  terdapat satu kelompok gajah liar berjumlah 12 ekor dibawah ‘komando’ seekor gajah betina besar sebagai pemimpin rombongan yang mengalami perubahan perilaku.

Kawanan gajah liar ini bahkan amat agresif, tak lagi takut saat dihalau bahkan memiliki kecenderungan untuk menyerang manusia saat masuk ke permukiman dan perkebunan warga.

Kerapnya kawanan gajah ini masuk ke permukiman warga bahkan menjadikan koloni ini amat legendaris. Warga, tim dari WWF maupun smart patroli bahkan memiliki sebutan tersendiri untuk kawanan gajah ini yakni; Kelompok 12.

“Karakteristiknya berbeda dari kelompok-kelompok gajah liar lainnya. Jika, kelompok gajah liar lainnya selalu berhasil saat dihalau ketika masuk ke permukiman warga, berbeda dengan kelompok 12 ini, mereka cenderung agresif, tak lagi takut saat dihalau dengan petasan,” jelas Fembry Ariyanto dari WWF Indonesia saat media fieldtrip di register 39 blok 3 TNBBS Kabupaten Tanggamus.

Dari hasil pengamatan petugas patroli dan warga, kelompok 12 ini bahkan cenderung mengancam dan menyerang,”perubahan perilaku ini jelas masuk kategori sudah berubah dan tidak normal untuk kawanan gajah liar. Karena, upaya penghalauan tak lagi membuat mereka takut bahkan cenderung berusaha menyerang manusia,” paparnya lagi.

Ia khawatir, suatu saat kondisi ini akan amat membahayakan tak hanya bagi manusia tapi juga buat kawanan gajah-gajah tersebut.”Kondisi ini menjadi perhatian serius buat kami, dan penanganannya pun harus segera dan tepat”.

Karenanya, Ari melihat pentingnya upaya nyata dalam penanganan serta perlindungan terhadap keberlangsungan habitat gajah ini untuk semakin menekan konflik yang semakin variatif termasuk terjadinya pola perubahan perilaku dari kawanan gajah ini.

Untuk memitigasi konflik manusia dan gajah, sejak Juli 2009 lalu, WWF Indonesia bahkan telah bekerjasama dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Barat, serta Forum Komunikasi Mahout Sumatera (FOKMAS) melakukan pemasangan GPS Satellite Collar.

Alat ini dipasang pada gajah liar untuk mengetahui keberadaan sebagai upaya monitoring keberadaan dan pergerakannya, dan sebagai peringatan dini untuk mitigasi konflik Gajah sehingga dapat mencegah masuknya Gajah liar ke area pemukiman atau perkebunan sehingga dapat meminimalkan konflik antara gajah dan manusia.

“Selain itu, perlu pula segera dilakukan perbaikan habitat yang bisa diawali dengan pembuatan demplot pakan untuk Gajah Sumatera dan Badak Sumatera”.

Pada prinsifnya, lanjut Fembry Ariyanto, WWF Indonesia mendukung program terpadu dalam penanganan konflik gajah dan manusia dan mendukung upaya pelestarian hutan. Sebab, WWF tak selamanya menggiring gajah ke dalam hutan.

Di tempat yang sama, penyuluh kehutanan TNBBS Desa Pemerihan, Vivin Adi Anggoro sebagai Penyuluh Kehutanan TNBBS desa Pemerihan juga mengungkapkan pentingnya keberlangsungan hutan dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan perambahan.

“Pemahaman ini perlu ditanamkan ke masyarakat, untuk sama-sama menjaga keberlangsungan hutan di TNBBS ini sehingga konflik antara gajah dan manusia bisa ditekan seminimal mungkin dan populasi satwa liar tidak mengalami penurunan, hutan menjadi hidup kembali dan manusia bisa mendapatkan manfaat lestari dari hutan. Hal ini bisa dilakukan bersama-sama secara sadar apabila kita mau berusaha mengembalikan habitat alami gajah dan memanfaatkan habitat tersebut dengan bijak dan lestari,” harapnya. (Ikka. R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *