Kemkominfo Ajak Mahasiswa Unila Jadi Duta Ramah Frekuensi

Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (SDPPI Kemkominfo) memberikan edukasi terkait pemanfaatan spektrum frekuensi yang baik dan benar kepada ratusan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Lampung (Unila) Kamis (16/5) di kampus setempat.

Dalam paparannya, Dirjen SDPPI Kemkominfo Ismail menejelaskan masyarakat membutuhkan spektrum frekuensi dalam sistem keselamatan penerbangan, kebencanaan, sampai produktivitas manusia. Frekuensi bisa dimanfaatkan dengan baik jika tidak terdapat aktifitas yang mengganggu sistem akibat penggunaan spektrum frekuensi yang tidak sesuai peruntukannya

“Misalnya komunikasi antara pilot dengan menara kontrol. Untuk landing pesawat harus dipandu oleh menara kontrol dimana komunikasinya menggunakan radio. Frekuensi radio tersebut harus dijaga dari gangguan frekuensi radio komunitas, handy talky, atau ponsel agar proses landing berlajan lancar,” ujarnya.

Begitu pula dengan sistem mitigas bencana BMKG, tidak akan berfungsi jika frekuensinya tertanggu radio komunitas dengan volume yang besar antena yang panjang. Untuk itu Ismail meminta kepada masyarakat pengguna radio komunitas untuk tidak memodifikasi alat dengan menambah daya untuk memperoleh jangkauan lebih luas karena berisiko menimbulkan bahaya.

Ismail menejelaskan spektrum frekuensi terdiri dari beberapa lapisan (layer), yaitu layer infrastruktur berupa jaringan yang di bangun oleh provider. Saat ini 90% alat komunikasi menggunakan radio.hanya 10% yang menggunakan kabel fiber optic. Kedua layer aplikasi yang dioperasikam menggunakan jaringan infrastruktur. Serta, layer konten berupa pesan yang disebarkan menggunakan frekuensi menggunakan alat komunikasi.

“Setiap sistem yang menggunakan frekuensi harus bergerak di lapisannya masing-masing. Perpindahan lapisan dapat menyebabkan gangguan. Pengelolaan frekuensi ini tidak bisa kami lakukan sendiri. Mahasiwa harus menjadi generasi milenial yang ramah dalam memanfaatkan spektrum frekuensi,” ujarnya.

Ismail juga menakankan frekuensi memiliki nilai ekonomis dan sosial yang tinggi. Melalui perizinan sewa frekuensi tersebut Kemkominfo meraup Rp16-18 triliun yang masuk dalam penerimaan negara bukan pajak. Sementara di bidang sosial frekuensi dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan komunitas.

“Kami berharap mahasiswa akan menjadi duta yang menyampaikan kepada masyarakat untuk memanfaatkan frekuensi sebaik-baiknya demi kepentingan bangsa dan negara,” harapnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Karomani mengapresiasi edukasi yang disampaikan Ditjen SDPPI Kemkominfo. Ia berharap mahasiswa Unila dapat memanfaatkan frekuensi secara bijak dan mengambil sebagai duta pengguna frekuensi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *