Ketika Tangan Diatas dan Dibawah Saling Merangkul

Bandar Lampung – Matahari sudah di ufuk. Orang-orang mulai bergegas, pelataran parkir di Pasar Tengah juga sudah mulai sedikit lengang, angkutan-angkutan kota tak lagi menyerobot dan menerobos, hanya ada beberapa saja yang terlihat masih bertahan.

Diantara ketiadaan hiruk pikuk khas sebuah pasar yang mulai membias, dua perempuan berhijab bergotong plastik hitam besar berisi puluhan nasi bungkus, berjalan saling bersisian, menyapu jalan dengan senyum.

Pengayuh-pengayuh becak yang semula tertidur lelah di dalam becaknya mulai berbinar saat melihat keduanya menghampir.

Empat belas bungkus nasi ikan yang dibawa keduanya habis hanya di ruas itu saja, untuk para pengayuh becak, sopir-sopir angkutan kota dan karyawan-karyawan toko yang hendak berangkat pulang.

Ardis Andrini, salah satu anggota komunitas berbagi nasi menyebut aksi berbagi nasi kepada kaum dhuafa ini sudah dilakukan sejak lama, meskipun dengan intensitas waktu yang kadang tidak seragam.

“Menunggu dana yang didapat dari sedekah teman-teman dan warga yang berniat menyisihkan uangnya untuk berbagi bersama kami,” tutur Ardis.

Setiap pekan, komunitas ini menetapkan lokasi tempat membagi-bagi nasi, jumlahnya pun variatif,”tergantung berapa dana yang terkumpul kami sesuaikan dengan nasi dan lauk yang kami bagi. Pernah sampai 200 bungkus”.

Untuk menghapus kesan ria’, komunitas ini memang sengaja bergerak saat suasana sudah tak lagi ramai atau mencari tempat-tempat yang memang layak untuk mendapatkan nasi bungkus gratis.
——————

Ditempat lain, di Terminal Rajabasa, komunitas berbagi nasi lainnya juga ikut ‘bergerak’ menyalurkan sedekah dari dermawan kepada siapapun khususnya dhuafa yang ada maupun kebetulan melintas di terminal itu.

Terkadang pula, komunitas berbagi nasi yang menyiapkan satu unit blindvan itu, berada di depan Masjid Al-Abror Jalan Pemuda atau tepat disisi Chandra Departement Store.

“Siapapun boleh mengambil nasi, ini gratis. Siapapun pula bisa ikut menyumbang atau berpartisipasi bersama kami,” ujar salah seorang relawan yang sesekali sibuk memberikan nasi-nasi bungkus kepada orang-orang yang datang menghampiri mobilnya.

Oase

Ditengah kegamangan sikap individualis masing-masing masyarakat khususnya di Bandar Lampung kini, komunitas berbagi nasi ini bak oase.

Mereka bergerak tanpa memandang latar siapapun, termasuk agama apapun,”kami ingin menyandingkan tangan diatas dan dibawah untuk saling merangkul,” jelas Ardis.

Tak jarang, anggota komunitas ini harus merogoh kocek mereka sendiri, ketika sumbangan mulai minim sementara tempo waktu untuk berbagi sudah mulai dekat.
———

Gerakan-gerakan berbagi seperti komunitas berbagi nasi ini juga mulai menjadi trend yang mulai masif, meski konsepnya berbeda.

Di Masjid Al-Hidayah Jalan Tirtaria, Tanjungsenang, setiap Jumat selalu menyediakan penganan ringan hingga nasi kotak kepada jemaah usai menunaikan Shalat Jum’at.

Dananya didapat tak hanya dari infaq masjid tapi juga kas kelompok pengajian masjid setempat.

Hebatnya, tak hanya setiap Jum’at, tapi juga setiap seusai shalat Subuh berjamaah ada penganan mulai dari bubur kacang hijau hingga sarapan pagi disediakan di masjid ini.

Yang lebih sedikit ‘mewah’ tentu saja di Masjid Ad-Dua dibilangan Jalan Sultan Agung, Way Halim. Disini, setiap ba’da Jum’at, ada makan siang untuk para jemaah Jum’at, hidangannya beragam, lauknya pun variatif termasuk buah-buahan pencuci mulutnya.

Sosiolog Abdoel Djabar kepada portallampung.co, menyebut gerakan-gerakan berbagi ini tak lagi sekedar fenomena. Di kota besar, gerakan berbagi nasi khususnya oleh kelompok milenial menjadi sebuah trend dalam berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

“Meski konsepnya berbeda tapi tujuan mereka satu, ini sebuah kultur untuk saling tolong-menolong kepada sesama yang lebih tepat sasaran,” tutur Abdoel Djabar. (ikka/msr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *