Kisah Duka Para Pemintal di Eight International

Bandar Lampung – Lamat-lamat suara takbir dari arah para buruh itu mulai terdengar parau. Kerumunan mereka mulai berai diantara petugas berseragam yang terus merangsek.

Suasana saat itu sudah tak lagi kondusif, dari pelataran pabrik PT. Eight International di Way Lunik, Panjang, cuaca di Senin (25/2) seketika berubah panas. Aparat Brimob menjadi amat represif kepada demonstran. Beberapa bahkan dipaksa dan digotong ke truk petugas dan dibawa ke Mapolres Bandar Lampung.

Seorang buruh yang ‘diangkut’ paksa oleh petugas, terus meneriakkan takbir diantara demonstran lain yang berusaha melepasnya dari tangan-tangan petugas.

Hari itu, menjadi antiklimaks buat para buruh PT. Eight International untuk menuntut haknya sebagai pekerja. Namun, balasannya dirasakan mereka amat arogan. Perusahaan sengaja mengerahkan aparat kepolisian untuk menghalau aksi puluhan buruh pabrik pemintal sabut kelapa itu.

“Kami hanya menuntut hak kami dan meminta kejelasan dari perusahaan tentang tujuh orang teman kami yang di PHK secara sepihak oleh perusahaan, tapi kenapa perusahaan justru membenturkan kami dengan aparat kepolisian,” tutur salah seorang buruh.

Selama ini, lanjut salah seorang buruh, mereka mendapat upah yang jauh dari kata layak apalagi sesuai ketentuan upah minimum kota (UMK).

Sejak awal tahun 2018, mereka hanya diupah Rp.1,4 juta/bulan.”Upah yang kami terima ini, jauh dari sesuai, karena kami harus bekerja enam hari dalam seminggu!,” ungkap seorang buruh.

Anehnya, ditengah ketidakjelasan kesesuaian upah itu, manajemen PT.Eight International terus membuka rekrutmen pekerja baru.

Belakangan pula, tujuh orang pekerja di perusahaan pembuat tali tambang berbahan sabut kelapa dipecat tanpa alasan yang jelas. Buruh lain yang berupaya meminta kejelasan status tujuh orang rekannya justru dijawab pihak perusahaan dengan alasan yang logis.”Alasannya kualitas tali yang dipintal jelek dan mesin rusak akibat mereka, inikan aneh buat kami”.

Puncaknya dari ketidakpuasan para buruh itu kemudian dilakukan dengan menggelar aksi mogok kerja sejak Minggu (24/2) dilokasi pabrik.

Namun, aksi damai itu berujung petaka pada Senin (25/2), kedatangan aparat kepolisian ditengah aksi mogok itu berujung ricuh dan diamankannya sejumlah buruh oleh petugas.

Sementara kuasa hukum PT Eight Internasional Osep Dody kepada wartawan mengatakan, pihak perusahaan meminta bantuan Satbrimoda lantaran buruh menyalahi aturan dalam mogok kerja.

Bermula dari PHK tujuh buruh dan berlanjut ke Disnakertrans untuk dimediasi. Pihak perusahaan setuju membayar hasil ketentuan, namun para buruh tidak setuju dengan hasil mediasi. ”Harusnya dilanjutkan ke PHI. Ini malah mogok kerja. Seharusnya bisa dilakukan tanpa memengaruhi kerja. Tapi mereka memblokade pintu masuk kontainer,” papar Osep. (ikka/msr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *