Lampung Fair; Mayday…Mayday

Dari tahun ke tahun pelaksanaan Lampung Fair nyaris stagnan, tak ada perkembangan berarti. Demikian pula Lampung Fair tahun 2019 yang terkesan dipaksakan. Hasilnya, tetap saja. Lampung Fair dalam kondisi darurat

Bandar Lampung – Seandainya mau sedikit jeli, ternyata karcis parkir Lampung Fair 2019 adalah tiket ‘sisa’ Lampung Fair 2018 lalu. Hanya saja, angka tahun 2018 yang tertera di karcis ditutup dengan stiker putih agar tak terlalu kentara. Itu hanya sebagian kecil saja.

Tapi, portallampung.co mencoba bersikap objektif terhadap pelaksanaan Lampung Fair 2019, dengan meminta pendapat sebanyak 21 pengunjung dalam tiga hari secara acak yakni pada hari biasa, akhir pekan dan terakhir hari libur nasional tanggal 1 Mei dengan responden yang terdiri dari remaja dan dewasa.

Selain itu, portallampung.co juga meminta pendapat pada pengemudi ojek online dan taksi online (taksol) untuk melihat seberapa besar penghasilan yang mereka dapat dari pelaksanaan Lampung Fair, utamanya dalam hal mengantar dan menjemput pengunjungnya, ini menjadi salah satu indikator tingkat keramaian pengunjung.

Hasilnya, sebagian besar pengunjung mengaku kecewa. Dari 21 responden yang ditemui di pintu keluar Lampung Fair 2019 itu, hanya 3 narasumber itupun dua diantaranya dari kalangan remaja yang sedikit terhibur dengan Pusakata di Lampung Fair,”itu juga kita datang kesininya juga sengaja agak malam karena cuma mau nonton Pusakata. Kalau liat pamerannya kayaknya nggak dulu deh, soalnya gitu-gitu aja,” ungkap Dewi mahasiswi salah satu perguruan tinggi.

Yang paling kecewa tentu Ronald, mahasiswa Itera ini terpaksa membuang jauh-jauh ekspektasinya terhadap Lampung Fair. Ia yang asal Jakarta ini awalnya ingin melihat Lampung melalui miniatur Lampung Fair tapi hasilnya nihil,”ini cuma pasar malem!”.

Hidayat (45) warga Bukit Kemiling Permai bahkan sempat adu argumen dengan penjaga parkir yang dikelola panitia, karena helmnya dipindah ke sepeda motor lain,”saya jauh-jauh kesini percuma aja, cuma gini-gini aja, sudah itu helm dipindah-pindah ke motor lain, kalau hilang mau tanggung jawab juga enggak padahal bayar parkir sudah lima ribu sendiri,” umpatnya.

Murtini yang sengaja datang bersama keluarga dari Natar juga tak kurang kecewanya, mulai dari sejak parkir hingga di dalam arena Lampung Fair ia nyaris tak mendapat apa-apa,”barang yang diobral juga mahal-mahal semua, harga obral masih lebih mahal harga di pasar. Tolong bilang sama panitianya, kenapa parkir sampe 10 ribu, kalau satu mobil dijaga satu orang boleh aja semahal itu,” tuturnya.

Tapi, untung saja masih ada Hayati (35) warga Perumahan Tanjung Raya Permai, Way Kandis yang melihat Lampung Fair setidaknya sebagai hiburan untuk kedua anaknya,”apalagi ada wahana kora-kora, mendingan lah untuk anak-anak”.

Bagaimana dengan ojek online dan taksol, berapa penghasilan mereka dibanding tahun lalu?. Tak banyak, bahkan cenderung menurun dibanding tahun lalu. Sore, malam hari, weekend, libur akhir pekan dan libur nasional dalam rangka hari buruh (1/5), lonjakan penumpang tetap tak ada.

“Kalau tahun lalu, ngetem disini juga bisa tupo (tutup point), tapi sekarang agak susah bisa sampai malam. Padahal seharusnya kan kalau dipikir lebih mending naik taksol daripada bawa kendaraan sendiri harus bayar parkir mahal,” papar Rahadi driver taksol.

Indikatornya, lanjut pengemudi taksol lainnya, terlihat dari aplikasi yang ia punya. Biasanya, daerah atau lokasi yang permintaan konsumennya tinggi akan berubah warna mulai dari kuning hingga merah,”tapi ini biasa saja. Saya ngetem disini malah dapat penumpang dari Transmart”.

Berbeda dengan pengemudi ojek yang justru tak menjadikan Lampung Fair sebagai tempat paling gacor untuk mencari penumpang, terlalu naif jika memaksakan diri mangkal di Lampung Fair,”daripada disini lebih baik menunggu orderan food lebih jelas. Disini (Lampung Fair, red) dapat penumpang juga susah karena titik jemputnya yang kadang tidak sesuai,” aku Fadli.
———–

Lampung Fair yang mengusung tema Kilau Lampung, Semarak Sumatera ini memang terkesan dipaksakan hajatnya. Belum genap enam bulan sejak Lampung Fair 2018 digelar, JJ Wijaya selaku event organizer sudah menggeber lagi event ini sejak 19 April hingga 3 Mei 2019.

Entah ada apa dibalik terburu-burunya pelaksanaan Lampung Fair 2019 ini, meski banyak yang mengaitkan dengan suksesi kepemimpinan di Provinsi Lampung yang bakal mempengaruhi proses siapa pihak ketiga yang bakal mendapat jatah menggelar event ini.

Karena kurang rasional rasanya jika alasan Pemprov Lampung yang mempercepat pelaksanaan Lampung Fair hanya karena tak ingin pengunjung disusahkan oleh musim penghujan, kenyataannya Lampung Fair kali ini juga tak luput dari guyuran hujan selama berhari-hari.

Tak ada yang berubah tahun ini, jualannya pun tetap sama; deretan artis. Sementara, konsep yang dipamerkannya sama persis seperti tahun sebelumnya, yang juga digarap JJ Wijaya dari sekian banyak both yang ada, yang menarik perhatian pengunjung justru Anjungan Kota Bandar Lampung yang berhasil berinovasi dan lebih atraktif dari tahun ke tahunnya.

Anjungan ini memberikan pelayanan yang lebih mengena untuk pengunjung, selain pembuatan status kependudukan, anjungan ini memberikan konsultasi seputar haji dan nikah.

Selain itu, tentu saja both Polda Lampung yang juga melayani pembuatan SKCK hanya dalam hitungan menit. Kalau mau jujur, dua both inilah yang sebenarnya menarik animo pengunjung di Lampung Fair.

Semangat yang disampaikan Jihad Akbar Samburang, selaku Managing Director PT. Jaris Jasmin Wijaya yang hendak menonjolkan prestasi Provinsi Lampung sebagai gerbang selatan Pulau Sumatera mungkin tak semuanya berhasil

Karenanya, adalah amat beralasan ketika Ketua P3I Lampung, Fadliansyah Cholid sempat mengaku kaget dengan pelaksanaan Lampung Fair yang terkesan dipaksakan dan terburu-buru.

Dari Lampung Fair ini juga, Fadliansyah bahkan menyebut dunia aktivasi di Lampung nyaris ‘almarhum’ karena pemerintah Provinsi Lampung yang tidak pernah mau membuka matanya untuk memberdayakan event-event organizer lokal sebagai penyelenggaranya.”Kalau mau jujur, EO lokal lebih mampu bahkan kalau memang harus berkolaborasi kita siap, kenyataannya pemerintah kita masih belum bisa membuka matanya”.

Demikian juga soal tiket masuk yang dipatok Rp.15 ribu/pengunjung, menurutnya, Pemkot Bandar Lampung mempunyai hak untuk itu karena secara administratif pajak hiburan menjadi domainnya Kota Bandar Lampung.

“Kalau pemerintah yang profesional itu, semua harus melalui evaluasi apalagi untuk disampaikan ke masyarakat karena itu menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah sebagai pelayan masyarakat, kalau ala kadarnya seperti ini, kita bukan sedang diajak untuk maju tapi diajak untuk mundur terus”. (msr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *