Lelaki Pemanggil Ikan: Katakan Pada Temanmu Ada Makanan Disini

Teluk Doreri – Pria paruh baya itu berdiri di tepi Pantai Bakaro. Lukas Awiman Barayap meniup peluit sambil melempar-lemparkan rayap pohon ke tengah laut.

Lukas terus meniup peluit. Semakin melengking. Tatkala seperempat rayap di tangannya telah ia lempar ke laut, perlahan ombak membesar. Padahal angin hanya bersepoi tak kencang. Lidah laut yang tadi tenang-tenang menyentuh lututnya itu kini mengubur Lukas hingga pinggang.

Terjangannya membuat laki-laki 50 tahun ini pasang kuda-kuda. Sesekali ia terdorong dan mundur dua langkah.
“Lihat, ikannya sudatang,” tiba-tiba ia berteriak. Lukas meniup peluit dan melemparkan rayap kian keras.

Laut di Teluk Doreri yang hijau dan tembus pandang hingga dasar itu mempertontonkan keajaiban lain. Air berubah warna-warni. Itu warna pelbagai jenis ikan yang berebut menyantap rayap yang dilempar Lukas. Ada juga yang menumpang ombak mendekat ke kakinya, berkecipak seperti bersuka- cita.

Melihat ikan-ikan sebesar lima jari tangan itu mendekat, Lukas membungkuk dan mencelupkan rayap ke dalam air. “Katakan pada teman-temanmu, ada makanan di sini,” katanya.

Lukas keluar dari air lalu memanjat tebing yang lebih tinggi, meniup peluit lebih keras, merentangkan tangan, dan melemparkan rayap terakhir di genggamannya. “Itu ikan bulanak, yang ini ikan kapas, babara, kakatua, dan yang ujung ikan hias,” katanya, menunjuk ikan-ikan yang berkecipak di bawahnya.

Ia masih memandangi ikan-ikan itu sejenak sebelum balik badan. Satu-satu rombongan ikan menghilang, kembali ke tengah laut, kembali menyelinap ke balik-balik karang. Ombak juga kembali tenang.

Kemampuan Lukas memanggil dan berkomunikasi dengan ikan dan semua penghuni laut di Teluk Doreri ini dimulai pada 1995. Waktu itu kawasan Pantai Bakaro masih terisolasi.

Terselip di antara lekuk pulau-pulau kecil di sekitarnya, pantai yang bersambung langsung ke Samudra Pasifik itu tak dikenal banyak orang. Jalan masih tanah, listrik belum menyala.

Namun pantai yang belum terjamah pariwisata itu menyimpan pesona dan daya tarik bagi nelayan. Ikan dan terumbu karang bisa dilihat dari atas perahu saking jernih dan bersihnya air laut di sana.

Lalu periode memangsa penghuni laut pun dimulai pada 1990. Nelayan yang tak sabar mulai memakai racun potasium untuk menjala dan menangkap ikan. “Kalau pagi di sini seperti perang dunia saja, bom meletus dari ujung ke ujung,” kata Lukas.

Maka, ketika siang, ikan-ikan mengambang, terumbu karang rusak, laut jadi kotor. Lukas, yang sudah tinggal di sana sejak 1979, geregetan dengan keadaan itu. Orang Merauke ini tahu, perusak laut di depan rumahnya itu bukan orang-orang Bakaro.

Nelayan Bakaro menangkap ikan hanya dengan kail dari atas perahu. Hasilnya pun untuk makan sehari-hari. Dijual ke pasar jika ada lebih saja. Sebagai guru jemaat, Lukas kerap mewanti-wanti dalam khotbahnya agar penduduk di sana menjaga kelestarian pantai Bakaro.

Kedatangan nelayan luar yang merusak keindahan pantai itu membuat Lukas terpikir mencegahnya. Tapi ia hanya seorang diri, tak akan mampu melawan puluhan nelayan yang membawa bom. Tak mungkin juga ia mendatangi mereka lalu berceramah tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.

Ide pun muncul pada 15 Desember 1995 malam. Lukas akan mengumpulkan ikan-ikan itu di dekatnya ketika para nelayan memasang potasium.

Lukas percaya, manusia bisa berbicara dengan binatang. “Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, ternak, atas seluruh bumi, dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Hal yang sama juga ada dalam Al-Quran amsal Nabi Sulaiman, yang bisa berbicara kepada semua binatang,” katanya.

Maka esoknya Lukas berjalan ke tepi laut. Rumahnya hanya 200 meter dari pantai. Di salah satu tebing karang ia duduk menghadap laut. Matanya terpejam dan berdoa.

Dengan konsentrasi penuh, tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak dari belakangnya, jauh dari arah gunung. “Coba pakai rayap….” Jelas, itu suara laki-laki. Lukas membuka mata dan menoleh ke belakang. Tak ada sesiapa. Pagi masih hening. Belum ada satu pun orang Bakaro yang keluar rumah.

Ia kembali menghadap laut dan memejamkan mata.
Dalam hati Lukas kembali berdoa agar ditunjukkan cara memanggil ikan untuk niat baik menyelamatkan mereka. “Lalu saya mendengar suara roh agar saya memakai apa-apa yang ada di sekeliling saya,” katanya.

Ia mengambil batu dan mengetuk-ngetukkannya ke batu karang. Keajaiban pun muncul. Ombak perlahan-lahan membesar membawa ikan-ikan ke dekatnya. Ikan-ikan bertambah banyak seiring dengan ketukan batu. Lukas takjub akan apa yang dilihatnya.

Tapi ikan-ikan itu hanya sebentar berkumpul. Mereka kembali ke tengah laut ketika Lukas hanya diam terpaku. Ia pun bergegas kembali ke rumah. “Mungkin mereka kecewa karena saya tak memberi makanan,” katanya. Ia pun mencari-cari rayap seperti saran suara yang ia dengar tadi. “Siapa tahu mungkin memang itu petunjuk,” katanya.

Lukas kembali dengan segenggam rayap pohon. Ia mengetuk-ngetukkan batu sambil melempar rayap-rayap itu. Kini ikan-ikan yang mendekat berebutan memangsa rayap yang dilemparnya.

Hari ke hari ia kian takjub dengan kemampuannya sendiri memanggil ikan di laut. Esok dan seterusnya Lukas tak lagi merapal doa seperti pada pemanggilan pertama. Ia langsung mengetukkan batu dan melempar rayap. Ikan-ikan tak sungkan menghampiri.

Ia masih penasaran apakah rayap satu-satunya makanan yang disukai ribuan jenis ikan di sana. Lukas pun menyelam sambil menyebarkan makanan: nasi, singkong rebus, dan rayap.
“Ternyata memang hanya rayap yang mereka makan,” katanya. Setiap pagi Lukas memberi makan ikan-ikan itu ketika puluhan nelayan melautkan perahu dengan jaring dan bom.

Sembari memberi makan itulah, Lukas kerap berbicara kepada ikan. “Beri tahu teman-temanmu, ada makanan dan berkumpullah di sini setiap pagi.” Selain dengan batu, ia pernah mencobanya dengan peluit. Dan mereka tetap datang. Sejak itu, peluit dan rayap ia pakai untuk memanggil ikan di Teluk Doreri.

Bunyi peluit yang melengking pagi-pagi tentu saja membuat orang-orang di Bakaro penasaran. Mereka berkerumun dan takjub melihat Lukas bisa memanggil dan bercengkerama dengan ikan.

Marta Barayap, istri Lukas, bisa meniru apa yang dilakukan suaminya. Perempuan 48 tahun itu pun bergiliran dengan Lukas memberi makan ikan di Teluk Doreri, juga dengan peluit dan rayap, setiap pagi. Belakangan, Musa dan Helena Barayap bisa melakukan hal serupa. Anak 10 dan 8 tahun itu bisa mengumpulkan ikan ke dekatnya.

Keajaiban itu membawa berkah bagi Bakaro. Pantai yang rimbun dengan pohon kelapa dan bakau ini kembali bersih seperti semula. Lukas melarang siapa pun menangkap ikan di sana, terutama ketika ikan sedang ia kumpulkan untuk diberi makan. Nelayan pun kini menjala ikan hanya dengan kail. Tak ada lagi yang berani melaut dengan bom. Selain tak dapat ikan, mereka segan dengan kemampuan Lukas.

Ia tak pernah menolak jika ada pengunjung memintanya memanggil ikan. Alumnus Sekolah Pendidikan Guru Jemaat di Manokwari ini juga selalu bersemangat mengulang cerita pengalaman spiritualnya pada 1995 itu. “Sekali lagi ini bukan ilmu, Anda juga bisa melakukannya,” katanya. “Saya selalu berdoa agar setiap orang bisa melakukan ini, demi keselamatan dan lingkungan yang baik.”

Lukas percaya, jika kita bisa berkomunikasi dengan binatang, kita akan menyayangi dan melindunginya. Manusia, kata dia, menjadi jahat kepada alam dan binatang karena tak mengerti apa yang sudah mereka berikan kepada kita. Ia tak meminta bayaran jika ada yang memintanya meniup peluit dan mengumpulkan ikan. Kalaupun ada turis yang memberinya uang, ia akan menyumbangkannya untuk kegiatan gereja. (dbs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *