Mayjend Ryacudu Straat, Riwayatmu Kini…

Pasca beroperasinya jalan tol Bakauheni-Palembang, ruas Jalan Mayjend. Ryacudu rusak parah dilintasi kendaraan beragam tonase. Jalan yang semula sejuk dan bersahaja itu, kini gersang, berpolusi dan berubah horor karena kerap memakan korban

Bandar Lampung – Setiap pagi, lalu-lalang orang tak pernah sepi, dari dua arah. Ditingkahi udara yang masih amat sejuk yang menerobos rerimbunan pohon-pohon yang menjadi median jalan. Sesekali beberapa murid melintas pula diruas yang sama menuju SDN 2 Harapanjaya. Lapak-lapak pedagang sarapan pagi pun sudah bersiap sejak dini hari.

Bakul-bakul sayur dengan sepeda onthelnya pun keluar masuk komplek perumahan membelah jalan

Ritme yang intens itu, menjadi pemandangan lazim di sedikit ruas Jalan Mayjend.Ryacudu yang membelah blok-blok Perumahan Korpri itu. Semakin siang, bus-bus Trans Bandar Lampung dari dan menuju Tanjungkarang juga sesekali melintas dengan penumpang yang lumayan sesak. Pohon-pohon teduhan berfungsi optimal menahan laju terik matahari hingga terus bergerak sore yang semakin teduh.

Sore hari, ritme pagi berulang. Warga komplek memanfaatkan jalan yang lumayan lengang dari volume kendaraan itu untuk berolahraga. Anak-anak sekolah dasar dan menengah pertama bergerak pulang, bercanda ditepian jalan sembari menanti angkutan umum.

Malam hari, tepian ruas jalan temaram dengan lampu-lampu pedagang makanan yang nyaris lengkap, beberapa pedagang menggelar lesehan disisi jalan hingga tengah malam.

Ruas sepanjang 3,14 kilometer sejak dari perbatasan Jalan Soekarno-Hatta hingga perbatasan Jalan Airan Raya dan Jalan Pangeran Senopati itu terasa amat damai.

Rifa’i menggambarkan keadaan itu dengan amat detil, meski sesekali ia seperti berusaha mengingat dengan agak lama tapi semua dijabarkan dengan amat rinci.”Sangking lengang dan mulusnya jalanan ini, pernah tiap malam dijadikan tempat balapan anak-anak, tapi berhenti setelah kami tegur,” tutur Rifai.
———

Daun-daun Mahoni di median jalan itu tak lagi hijau tapi kecoklatan. Debu-debu tanah terbang dan menempel di daun dan melayu. Hampir semua pohon teduhan di tepian jalur dua Jalan Mayjend.Ryacudu itu ‘kuyu’ dari debu.

Badan jalannya juga mulai berubah menyeramkan, lubang bergelimang hampir disetiap ruasnya, beberapa ada yang sangat dalam dengan diameter yang lumayan besar.

Kendaraan-kendaraan berukuran besar pun mendominasi jalan. Tonase jalan yang rendah terlalu payah karena dilintasi fuso-fuso bermuatan berat. Debu juga berterbangan dimana-mana.

Tak ayal polusi udara menjadi ancaman lain warga komplek, diantara ancaman utama jalan-jalan yang berlubang.

 

 

Entah berapa korban yang nahas di jalan ini. Kendaraan yang bertabrakan karena menghindari lubang pun tak berbilang, pernah pula ada pelajar yang mengendarai sepeda motor ditabrak dari arah belakang hanya karena menghindari lubang.

Apalagi, saat musim hujan. Ruas jalan ini menjadi begitu menyeramkan dengan kubangan yang menghias dihampir setiap ruas.

Heriyanto, PNS yang tinggal di Jalan Airan Raya, Way Huwi, menganggap jalan ini horor. Ia tak lagi mau menjadikan jalan ini sebagai pintasan pulang,”banyak lubang, kalau tak hati-hati bisa-bisa kena tabrak dari belakang”.

 

 

Gotong-royong warga yang berusaha menambal lubang-lubang jalanan pun nyaris tak berarti karena tak bisa menahan beban kendaraan berat yang melintas.

Keluhan demi keluhan seperti tak berkesudahan, sementara ruas jalan yang rusak parah tak pernah diperbaiki, sementara volume kendaraan terus meningkat.

Payahnya lagi, dari sekian banyak akses masuk dan keluar tol Bakauheni-Palembang, Jalan Mayjend.Ryacudu menjadi pintu masuk dan keluar tol yang paling ramai diminati apalagi oleh kendaraan bertonase besar.

“Ini semua karena jalan tol. Banyak kendaraan yang masuk dan keluar dari jalan tol lewat jalan ini, akibatnya jalan perumahan ini seperti jalan lintas!,” kata Rifa’i kesal.

IB Ilham Malik, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai, idealnya setiap pembangunan jalan tol memang harus mempertimbangkan jalan penunjang exit tollnya.

“Harus ada perhatian khusus ditiap exit tollnya. Pertimbangan volume dan kapasitas kendaraan yang melintas harus menjadi prioritas,” kata Ilham Malik.

Terhadap Jalan Mayjend.Ryacudu, Ilham Malik memandang perlunya Pemprov Lampung berkoordinasi dengan pihak pengelola jalan tol untuk memperbaiki akses tol tersebut.

“Tidak perlu ada jalan baru, karena akan membutuhkan biaya yang lebih besar. Cukup perbaiki dan tingkatkan Jalan Mayjend.Ryacudu sehingga tak terus menjadi polemik. Saat ini, jalan itu, statusnya adalah jalan provinsi. Jika dianggap perlu, statusnya bisa ditingkatkan jadi jalan nasional dengan berkoordinasi Kementerian PU-PR untuk melimpahkan jalan akses ini menjadi jalan nasional,” jelasnya.

Ditempat lain, Kabid Perencanaan Dinas PUPR Lampung, M.Taufiqullah mengaku memang sudah mengetahui kondisi ruas Jalan Ryacudu yang kondisinya rusak parah.

Untuk perbaikan jalan ini, dinas menyiapkan anggaran Rp11 miliar. Rinciannya, untuk pemeliharaan dan pelebaran sisi ruas jalan. (msr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *