NasDem, Tampan Sujarwadi dan Panggilan Pengabdian

“ini panggilan pengabdian. Saya itu tidak punya apa-apa. Yang saya miliki itu hanya hubungan baik dengan semua orang. Manusia itu harus berguna untuk manusia yang lainnya”

Bandar Lampung – Suara yang keluar dari rumah kecil di kawasan Palapa, Durianpayung itu terdengar riuh. Siang itu, warga yang didominasi kaum perempuan meriung di teras rumah yang saling berhimpit dengan rumah-rumahlainnya.

Ada sosok berpeci, berperawakan tegap lengkap dengan kemeja putihnya. Ia tengah menjadi pusat perhatian kala itu. Tapi, ia nyaris tak berjarak dan sekat dengan warga, berbaur dan sesekali melempar canda. Tampan Sujarwadi memang terlanjur dianggap saudara sekaligus karib buat warga. Tampan bahkan tak menyebut bahwa hari itu ia tengah berkampanye,”ini saudara-saudara saya semua. Sebelum nyaleg pun saya biasa bergaul dan bersilaturahmi sama mereka,” tutur Tampan.

Sikap kepedulian antar sesama yang ditanamkan oleh orang tuanya, memang terus dipegang teguh oleh Tampan Sujarwadi jauh sebelum ia mengenal dunia politik. Berkumpul bersama orang kebanyakan sudah menjadi bagian kesehariannya meski aktifitasnya sebagai pengusaha amat padat. Ia bisa berada dimana saja dan dengan siapa saja. Nongkrong di emperan warung makan pun ia ladeni. Kepeduliannya pada warga yang sudah ia anggap sebagai ‘saudara’ ini membuatnya paham betul apa yang dirasakan warga.

“Dulu waktu dengar keluhan dari warga, saya hanya bisa menahan napas, sembari menguatkan mereka untuk bersabar dan jangan lepas ibadah dan terus yakin bahwa perubahan itu pasti ada,” katanya.

 

Pintu rumahnya yang selalu terbuka untuk warga, pun berubah menjadi rumah tempat berkeluh kesah warga yang kebanyakan bercerita tentang semakin beratnya beban yang harus mereka pikul,”saya tak mungkin terus-menerussekedar membesarkan hati mereka. Harus ada aksi untuk mereka. Harus ada yang berbuat untuk mereka”.

Tuhan seperti mendengarkan kegamangannya akan keadaan saudara-saudaranya itu. Tuhan pula yang mempertemukannya dengan Partai NasDem sebagai jalannya untuk mulai berjuang.

Partai NasDem, menurutnya, sebagai gerakan perubahan, restorasi untuk mengembalikan khitah abdi masyarakat untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera.

“Mengalir saja. Bismillah. Ini sudah menjadi kehendak Allah, lewat Partai NasDem saya mulai mencoba memperjuangkan apa yang menjadi hak saudara-saudara saya di Bandar Lampung ini,” katanya yakin.

Jalan yang dipilih Tampan ini amat kontras dengan kehidupannya sebagai pengusaha. Ia yang sudah terbilang mapan dari usaha peternakan yang sudah ia rintis hingga besar seperti sekarang harus terbagi dengan niatnya dipolitik,”ini panggilan pengabdian. Saya itu tidak punya apa-apa. Yang saya miliki itu hanya hubungan baik dengan semua orang. Manusia itu harus berguna untuk manusia yang lainnya”.

Sejak ia memutuskan berpolitik, dukungan dan doa seperti tak ada hentinya. Ia bahkan sempat tak percaya ketika ada warga yang tanpa sepengetahuannya sudah lebih dulu bergerak melakukan sosialisasi untuk dirinya hingga ke pelosok-pelosok kampung.

Memilih sebagai calon wakil rakyat dari Partai NasDem untuk DPRD Lampung dengan nomor urut dua, daerah pemilihan Kota Bandar Lampung,”insya Allah amanah yang diberikan kepada saya nanti akan saya implementasikan dalam kerja-kerja legislasi yang pro terhadap rakyat. Setiap minggu pula sampai lima tahun kedepan saya akan terus turun langsung ke saudara-saudara saya untuk mendengarkan langsung apa yang menjadi permasalahan masyarakat”. (ikka)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *