Kisah Para Korban Qnet

Salam Ora Umum…

Mereka dibujuk, diiming-imingi pekerjaan kemudian dipaksa membeli produk kesehatan yang tak jelas, tinggal di tempat yang tak layak dengan kondisi kesehatan yang buruk hingga akhirnya terlantar. Korban MLM Qnet seperti tak ada habisnya, termasuk di Lampung. Tapi, mereka enggan melapor ke pihak yang berwajib terhadap apa yang mereka alami.

Bandar Lampung – Bengkel dari papan beratap seng yang sudah mulai termakan karat itu nyempil saja disalah satu sudut Jalan Pangeran Antasari, Bandar Lampung. Sedang ada dua motor yang diperbaiki, ruang yang sempit dan harus berbagi dengan mesin kompresor membuat gerakan Riwanto (30) jadi tak cekatan, tangannya penuh lumuran oli. Baju kodok mekaniknya pun sudah berubah hitam.

Sudah tiga bulan lebih, Wanto menjadi kenek dibengkel milik Ali itu. Meski tak tamat sekolah menengah atas, tapi Wanto sudah sedikit punya pengalaman. Itu didapatnya ketika ia pernah ‘terdampar’ dan luntang-lantung hampir satu tahun di daerah Cipondoh, Tangerang.

Raut wajahnya seketika berubah masam ketika diminta bercerita tentang awal dirinya bisa berada di Tangerang,”gara-gara qnet!,” katanya ketus. Wanto tak menyangka nasibnya bisa begitu buruk dan bahkan nyaris tak bisa pulang ke Lampung.

Awalnya, salah seorang rekannya dikampung, Kotagajah, Lamteng mengiming-imingi bekerja di pabrik sepatu di daerah Tangerang. Ia tergiur, apalagi saat itu statusnya pengangguran, hanya bekerja sebagai kuli bangunan itupun tak menentu, statusnya juga cuma kenek tukang. Kedua orang tuanya pun hanya hidup dari hasil tani.

“Saya lihat teman saya itu kayak sudah berhasil, hapenya aja bagus, pulang bawa motor, tiap hari dia selalu datang ke rumah, cerita ini itu soal kerjaannya,” kenangnya.

Wanto kadung terbuai, dua kambing milik bapaknya pun terjual untuk sangu merantau. Bekal uang Rp.2,5 juta, ia bertolak ke Pulau Jawa, dibonceng temannya yang menjamin bisa langsung dapat kerja.

Disana, Wanto dibawa kesatu tempat seperti aula tapi berhimpitan dengan permukiman dan pabrik,”disana sudah ada tujuh orang, kita cuma duduk aja disana. Saya lihat teman saya berbicara dengan dua orang”.

Belum hilang lelahnya sehabis bepergian jauh, Wanto dan tujuh orang lainnya yang belakangan diketahui juga terbuai dengan iming-iming janji bekerja di pabrik, langsung didoktrin oleh seseorang tentang cerita kesuksesan,”waktu itu saya masih belum ngeh, apalagi masih capek. Apa yang diomongin juga saya nggak ngerti. Saya mikirnya yang penting kerja aja”.

Selesai doktrin, ia mengira akan bisa langsung beristirahat. Sebaliknya, ia justru ‘diprospek’ habis-habisan oleh orang yang tak ia kenal. Ia sempat bertanya apa kaitannya dengan pekerjaan sebagai buruh dipabrik sepatu.”Saya sempat tanya, ini pelatihan untuk di pabrik sepatu atau bukan tapi jawabannya lain. Sempat bingung juga, tapi karena sudah tanggung, apalagi dibilangnya tetap kerja juga dapat penghasilan jutaan, saya iya-iya aja,” tuturnya.

Wanto ingat betul, proses doktrin itu berlangsung hingga dini hari menjelang adzan subuh, diujung doktrin, ia diminta menyiapkan uang Rp.8 juta untuk membeli alat kesehatan setelah membeli itu ia ditugaskan untuk mencari downline,”saya sempat kaget. Saya cari teman yang bawa saya itu, tapi nggak ketemu lagi”.

Ditengah kebingungan itu, Wanto terus ‘dipaksa’ untuk mencari uang. Ia diminta menghubungi orang tuanya untuk menyiapkan uang Rp. 8juta.”Tiga hari saya disana, tidur dilantai, makan cuma dikasih mi instan. Tiap hari ditanyain terus kapan uangnya bisa disiapin”.

Tak kuat terus-menerus mendapat tekanan, Wanto akhirnya takluk. Ia menghubungi orang tuanya untuk menyiapkan uang Rp.8 juta,”bapak sempat kaget dan marah dia bilang kerja kok disuruh mbayar, uang sebanyak itu darimana. Saya juga bingung. Bapak, saya paksa jual sapi tapi nggak mau”.

Setiap hari ia terus didesak bahkan sempat diancam,”seminggu saya disana, saya sudah nggak kuat lagi, saya emosi sama teman yang ngajak saya itu. Saya cari sudah nggak ada lagi, akhirnya saya kabur, saya bilang mau mau pinjam uang sama saudara di Jakarta, padahal saya nggak ada siapa-siapa, jangankan saudara, saya aja nggak pernah dan nggak tahu tempat ini dimana”.

Ia berhasil kabur meski sempat berkelahi dengan penjaga mesnya, pakaian pun tak terbawa, satu-satunya barang berharga yang ada hanya ponselnya.”saya jual hape dapat uang dua ratus ribu, tadinya kepikiran mau langsung pulang ke Kotagajah, tapi nggak tahu dimana naik bisnya. Saya tidur di masjid ada dua hari, akhirnya diusir karena dikira mau maling, ngegembel”.

Beruntung ada seorang warga yang mengijinkannya tinggal disebuah bengkel motor, syaratnya ia harus bekerja dibengkel itu,”jadi kenek, tinggal bareng sama yang punya tapi tidur ditokonya. Yang saya pikirin cuma dapat tempat tinggal, makan sama jauh dari lokasi qnet itu”.

Beberapa bulan bekerja dibengkel, Wanto memilih pulang ke Lampung, sedikit uang dari majikan jadi bekal, tapi ia kadung malu pulang ke rumah, ia singgah di rumah kerabatnya di Bandar Lampung dan akhirnya bekerja di bengkel, tapi sesekali ia pulang ke Kotagajah,”sampe sekarang saya masih cari teman saya itu, termasuk datang kerumahnya. Saya masih dendam”.
———

 

Cerita Dede lain lagi, pemuda asal Bekri, Lamteng ini pun mengaku nyaris menjadi korban Qnet. Suatu hari ia pernah diajak seorang temannya ke Bandarjaya, ia ditawari sebuah pekerjaan.

Tib di Bandarjaya, ia dibawa ke sebuah gedung.”Digedung itu sudah banyak orang, ada organ tunggal lengkap dengan sound systemnya, hape saya disuruh matiin, ternyata bukannya presentasi pekerjaan tapi justru presentasi Qnet. Saya terpaksa mengikuti acara itu, yang saya dengar cuma cerita sukses yang tiba-tiba kaya mendadak dari Qnet. Selesai acara itu, saya masih juga dibujuk untuk bergabung di Qnet oleh empat orang, tapi saya diminta menyiapkan uang Rp.10 juta untuk membeli produk kesehatan namanya Chakra,” kisahnya.

Marissa warga Metro juga pernah punya nasib serupa. Ia pernah ditawari bekerja di PT. Tunas Jaya Berjaya Global di Bandarjaya, belakangan ia pahham kalau perusahaan itu adalah kedok dari Qnet. Marissa bahkan sempat membuat postingan di salah satu grup lowongan kerja di Facebook yang meminta anggota grup ini untuk berhati-hati terhadap tawaran kerja dari PT. Tunas Jaya Berjaya Global,”itu Qnet!. Saya sudah sempat chat dengan orang yang mengaku karyawan perusahaan itu, ternyata perusahaan itu tidak ada”.

Rama korban Qnet lainnya bahkan pernah ditipu. Dari Palembang, Sumatera Selatan datang ke Lampung karena dijanjikan pekerjaan online dibagian packing barang ternyata ditempatkan disebuah mess namun belakangan diketahui itu adalah Qnet,”seingat saya messnya di dekat rumah makan Gadang Jaya 3″.
————-

Hingga tulisan ini diturunkan, tim portallampung.co kesulitan untuk meminta klarifikasi terkait banyaknya isu miring maupun pengakuan yang cenderung menyudutkan perusahaan berbasis MLM yang menjual produk kesehatan ini, demikian halnya ketika melakukan penelusuran lokasi resmi perusahaan ini di Lampung.

Hingga kini pun tidak ada penjelasan resmi dari pihak Qnet yang ada di Lampung terkait banyaknya para pencari kerja yang merasa ditipu, disisi lain ketiadaan alamat resmi Qnet di Lampung pun menjadi kendala lain untuk meminta klarifikasi terkait banyaknya tuduhan tentang Qnet ini.

Demikian halnya ketika penelusuran dilakukan melalui mesin pencari google, informasi yang didapat justru didominasi oleh sejumlah pengakuan tak menyenangkan dan negatif dengan iming-iming lapangan pekerjaan namun justru diminta menyiapkan uang untuk membeli produk kesehatan dan mencari anggota baru.

Dilaman-laman sosial, informasi tentang Qnet memang terlanjur terstigma buruk, banyak korban yang nyaris terjebak bujuk rayu atau bahkan sudah terlanjur menyerahkan uang hingga berjuta-juta.

Soal nama Qnet ini pula sempat menjadi polemik ketika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga resmi pengawas jasa keuangan merilis Qnet sebagai salah satu dari 80 perusahaan yang tidak aman investasi.

Belakangan, rilis OJK ini disanggah oleh PT. QN International Indonesia (QNet Indonesia) yang menegaskan bahwa perusahaan mereka resmi yang memiliki izin sebagai perusahaan penjualan langsung di Indonesia yang berada di bawah APLI.

PT QN International Indonesia berlepas diri dari segala bentuk penyimpangan pihak lain yang menyalahgunakan atau mengutip nama QNET Indonesia dalam menjalankan bisnisnya.

Ini pula yang disampaikan General Manager Qnet Indonesia, Bangun Simbolon yang mengatakan bahwa Qnet bukanlah investasi tapi perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan dengan sistem direct selling atau penjualan langsung. Para member atau Independen Representative (IR) mendapatkan komisi setiap adanya penjualan produk.

“Masyarakat harus memahami bahwa perusahaan penjualan langsung bukan perusahaan investasi. Produk-produk kesehatan yang dipasarkan oleh QNET pun terdaftar di BPOM serta Kementrian Kesehatan. Kami juga memiliki produk lain seperti produk gaya hidup, perhiasan, jam, liburan dan pendidikan,” kata Bangun dalam keterangannya persnya pada 2017 lalu.

Dia mengatakan, untuk mengedukasi masyarakat dalam membedakan perusahaan investasi bodong dan tidak, pada tanggal 3 Agustus 2016 lalu, QNET turut serta mendukung penandatanganan Perjanjian Kerjasama dengan Satuan Tugas Waspada Investasi (SWI) melalui Direktur PT QN International Indonesia, yaitu Ina H. Rachman. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *