Sebuah Perlawanan Kecil dari Selatan Panjang

Bandar Lampung – Namanya Rini Murtini, usianya pun sudah tak lagi muda. Sosoknya yang kecil dengan gurat-gurat usianya, nyaris tak menyurutkan semangatnya untuk terus melakukan ‘perlawanan’ sampai hari ini.

Dirumahnya, diantara deret permukiman warga lain, Rini terus berjuang hingga kampungnya ditetapkan sebagai ‘Kampung Hijau’ yang amat kontras dengan stigma kawasan pesisir muara Panjang yang cenderung menjadi kubangan sampah dari daerah lain di Bandar Lampung.

Rini ingin menghapus stigma tentang Kecamatan Panjang yang selama ini dikenal sebagai penghasil limbah sampah terbesar, termasuk perilaku hidup sehat masyarakatnya yang rendah.

Terlebih daerah Panjang yang bersisian dengan Teluk Lampung membuat masyarakat yang tinggal di daerah itu membuang sampah sembarangan ke laut.

Awalnya, tahun 2010 perlawanan itu dimulai Murtini dengan amat sederhana dan sendiri. Perjuangannya itu bahkan tak mendapat respon, kebanyakan bahkan menganggapnya tak waras.

Ia prihatin dengan tumpukan sampah yang seperti tidak ada habisnya, apalagi ketika ia melihat bibir pantai yang sudah menjelma menjadi kotak sampah raksasa. Sejak itu ia bertekad, perlawanan harus dimulai dari sekarang.

Tapi, tidak mudah baginya untuk memulai, banyak yang tak yakin, tak sedikit pula yang mencibir.”Bagaimana mungkin mengubah sampah menjadi suatu yang menghasilkan. Saya ingat betul cibiran itu. Itu pula yang memotivasi saya untuk terus berusaha,” papar Rini Murtini.

Tak berhasil menggugah hati para tetangganya, Rini Murtini mengajak anak-anak di lingkungan tempatnya tinggal untuk mengumpulkan sampah, ia bahkan membayar ‘kerja’ anak-anak itu.

Berbekal pengetahuan dari LSM lingkungan Mitra Bentala tentang pengolahan sampah, Rini Murtini bertekad untuk terus memulai ‘perlawanan’ terhadap gunungan sampah.

Sampah-sampah yang terkumpul itu, kemudian diolah menjadi pupuk, dengan mempercepat pembusukan sampah tersebut melalui proses pembuatan mikro organisme lokal (MOL) yang berasal dari bekas air cucian beras yang dicampur dengan terasi dan ragi tape yang telah difermentasikan agar bisa diolah menjadi kompos.

Pelan tapi pasti, usahanya mendapat perhatian dimulai dari tetangga. Pot-pot bunga maupun kotak sampah yang kerap kali hilang kini mulai dijaga. Banyak warga, khususnya kaum perempuan yang semula enggan melakukan hal itu, mereka beralasan bau sampah yang menyengat sangat mengganggu mereka saat harus melakukan proses pengomposan.

Tapi, lanjut Rini, soal bau sampah ini, bisa diatasi dengan mempercepat pembusukan sampah dengan memfermentasikan sampah melalui mikro organisme lokal,”sampahnya juga berasal dari mereka sendiri, jadi kalau urusan bau ya relatif lah”.

Semakin lama, volume sampah yang harus ditampung Rini Murtini semakin banyak, ia bahkan harus kewalahan karena proses pengolahannya masih dilakukan secara manual, khususnya pada saat mencacah sampah-sampah itu agar bisa didaur ulang, akibatnya butuh waktu yang relatif lama untuk bisa menghasilkan pupuk organik.

Kegigihan Murtini itu membuahkan hasil, pada 2012 ia diganjar sebagai pahlawan lingkungan hidup. Selain itu, tentu saja penetapan status kampungnya di Gang Ikan Kiter 1, sebagai kampung hijau yang menyulap sampah menjadi sesuatu yang menghasilkan.

Kampung hijau, menurut Murtini merupakan upaya pelestarian lingkungan yang mengajak masyarakat setempat untuk menjaga lingkungan. Dengan program ini, Murtini berharap masyarakat mampu mengelola sumber daya alam berdasarkan prinsip keharmonisan alam sekitar.”Singkatnya adalah upaya kita memperhatikan aspek lingkungan hidup agar tidak berbalik menjadi musuh bagi kita”.

Kepada masyarakat sekitar, Murtini menegaskan, menjaga kelestarian lingkungan tak perlu mengeluarkan banyak dana. Hal ini agar masyarakat tak perlu risau dengan dana yang hendak dikeluarkan, termasuk dalam memproduksi pupuk organik.

Berkat kerja kerasnya, selain kampung hijau, Bank Sampah, yang tengah ia rintis kini pun kian maju. Sebuah program yang memiliki nilai ekologis, sekaligus nilai ekonomis karena bisa menghasilkan profit.

Filosofi dari program ini adalah sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomis yang sayang sekali bila musnah. Sebab, limbah bisa diolah menjadi energi baru dalam beragam bentuk, misalkan kertas daur ulang dan pupuk kompos. (ikka/msr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *