Selebrasi Sampah Ditengah Kepungan Banjir

Bandar Lampung – Kadir hanya termangu melihat sejumlah orang yang sedang sibuk lalu-lalang membersihkan pantai. Sesekali ia mendengus. Warga Telukbetung Selatan itu seperti tak yakin apa yang dilakukan petugas-petugas itu bisa membersihkan tumpukan sampah yang kian menggunung di pesisir pantai Teluk Lampung itu.

Diantara air laut pantai yang pekat kehitaman itu, dibeberapa sudutnya bahkan berjejer jamban-jamban kayu yang serba darurat yang masih digunakan warga sekitar.

“Pantai Sukaraja ini isinya sudah sampah semua, nggak mungkin bisa bersih, apalagi cuma sehari ngebersihinnya,” ujarnya.

Sementara, pipa-pipa pembuangan yang sudah berlumut dari sejumlah bangunan pun mengarah langsung ke pantai, sesekali limbah yang mengucur pun berbuih.

Muara sungai ditepian pantai itu juga seperti terselip. Warnanya sudah tergerus air pantai, hitam. Badan sungai yang mulai mengecil semakin lengkap dengan pondasi-pondasi yang meranggas di badan sungai.

Keringat Suryani masih terus mengucur, sementara genangan lumpur di ruang tamu rumahnya masih belum habis. Garis memanjang setinggi hampir 30 centimeter bekas banjir tadi malam masih membekas di dinding rumahnya, tapi ia tak perduli. Ia masih terus sibuk membersihkan sisa-sisa lumpur.

Banjir besar dalam jarak yang berdekatan pada Sabtu (16/2) dan Selasa (19/2) malam, membuat Suryani dan keluarganya tak bisa beristirahat dengan tenang,”tiap hujan datang, saya selalu was-was”.

Telukbetung Selatan tempatnya tinggal menjadi daerah paling parah terdampak banjir dengan jumlah rumah yang terendam hingga 700-an lebih, atau yang terbanyak dari 10 kecamatan di Bandar Lampung yang terdampak banjir dengan jumlah total rumah terendam sebanyak 2.528.

Tiap tahun, saat musim penghujan datang, banjir menjadi amat ‘familiar’ buat Suryani maupun warga Telukbetung Selatan lainnya.

Kini, daerah yang terdampak banjir di Bandar Lampung juga kian meluas. Daerah-daerah seperti Sukarame, Sukabumi maupun Rajabasa pun ikut terdampak banjir, padahal dengan letaknya yang berada di ketinggian membuat sejumlah daerah ini harusnya berfungsi sebagai daerah resapan air, namun pada perkembangannya daerah-daerah resapan ini beralih fungsi menjadi permukiman.

Seperti yang dituturkan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung, Hendrawan yang menyebut alih fungsi daerah resapan menjadi salah satu penyebab banjir.

“Alih fungsi daerah resapan air dari catchment area menjadi area pembangunan juga menjadi salah satu penyebab banjir,” kata Direktur Eksekutif Walhi Lampung Hendrawan.

Disisi lain, keberadaan sungai-sungai besar berikut 23 anak sungainya yang melintas di Bandar Lampung kian tergerus, mulai dari penyempitan badan sungai, tempat membuang sampah hingga menjadi saluran pembuangan limbah industri.

Berdasarkan data yang diolah portallampung.co, menunjukkan setidaknya ada lima daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi saluran pembuangan limbah; Way Kuala (22 industri), Way Lunik (13 industri), Way Pancoran c(5 industri),Way Kunyit dan Way Kupang (2 industri).

“Limbah-limbah ini tersedimentasi di dalam aliran sungai sehingga terjadi pendangkalan. Selain limbah, kondisi aliran sungai juga masih diperparah dengan pola hidup masyarakat di bantaran sungai yang membuang sampah di sungai,” terang Ari Saputra, aktifis lingkungan yang fokus pada pencemaran lingkungan.

Akumulasi dari limbah dan penyempitan badan sungai itu semua, lanjut Ari lagi, adalah pendangkalan serta hilangnya fungsi sungai,”saat ini tidak ada satupun sungai di Bandar Lampung memenuhi standar jangankan untuk air minum, untuk MCK (mandi, cuci, kakus, red) saja sebenarnya tidak layak”.

Demikian halnya ketika musim penghujan tiba, saat intensitas curah hujan tinggi, banjir selalu terjadi. Semakin hilangnya fungsi dan badan sungai membuat daerah terdampak banjir juga semakin meluas.

Karenanya, Ari menilai, peringatan hari Sampah saat ini masih seremonial belaka yang sifatnya hanya selebrasi semata, sementara upaya serius penanganan sampah untuk mencegah banjir masih belum ada.

“Tidak bisa melulu mengandalkan petugas kebersihan saja, karena kenyataannya sampah yang tak terangkut jumlahnya mungkin sama banyaknya dengan yang terangkut,” paparnya.

Aksi setidaknya dimulai dengan membangun kesadaran masyarakat untuk tak sembarangan membuang sampah serta tegas terhadap pihak swasta yang membuang limbahnya ke sungai.”Daripada peringatan hari sampah hanya dilakukan sehari saja, sudah seharusnya memulai memberikan pemahaman kepada masyarakat dan swasta untuk tak membuang sampah maupun limbahnya sembarangan, jika perlu terbitkan peraturan tegas terhadap penanganan sampah dari hulu hingga hilir”. (ika/msr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *