Senjakala Para Ksatria Kuda

Dulu, bambu-bambu yang dianyam menyerupai kuda itu pernah menjadi sumber penghasilan buat mereka. Durasi pentas yang intens bahkan menjadi totalitas berkesenian tradisional yang akrab dengan unsur trance itu.Gempuran teknologi membuat kesenian tradisional itu jadi bulan-bulanan hingga berakhir jadi pajangan dinding. Kini, jangankan sebulan sekali, jaran-jaran itu lebih banyak terpacak didinding rumah

Bandar Lampung – Tangan dan kaki Juhri (47) masih penuh dengan lumpur. Keringat dari dahi mengalir membentuk garis-garis ditangannya yang penuh lumpur. Ia terkulai di amben serambi rumahnya di Desa Karanganyar, Jatiagung, Lamsel. Hujan membuat sawahnya nyaris banjir. Ia terpaksa membobol galangan sawahnya yang sebentar lagi panen.

Hari-hari Juhri kini memang lebih banyak dihabiskan di sepetak sawahnya yang kecil. Ia nyaris berhenti menjadi seniman jaranan. Kuda-kuda anyamannya kini hanya jadi pemanis tembok rumahnya yang masih semi permanen dengan posisi tengah ber-jingkrak dan saling berhadapan.

“Terakhir mentas itu tahun lalu. Waktu itu ada calon gubernur yang nanggap untuk main di Lampung Timur,” kata Juhri seperti berusaha mengingat-ingat. Itupun, mereka hanya dibayar kurang dari Rp.2 juta yang dibagi habis dengan tujuh orang lainnya dan ‘dipaksa’ menggunakan atribut bergambar calon saat perform,”ya mau gimana lagi. Nggak diambil, nggak ada yang nanggap”.

Setelahnya, ksatria-ksatria berkuda bambu ini lebih banyak menganggur. Sekali dua beberapa diantaranya masih menyempatkan mampir ke rumah Juhri menanyakan kemungkinan panggilan mentas yang hanya dijawab Juhri dengan tengadah tangan.

“Sekarang ada yang nukang, ada yang di pabrik penggilingan padi, mencar-mencarlah. Kalau tak begitu, bagaimana dapur bisa ngebul. Untung saya masih ada sawah sepetak,” kekehnya.

Sedang alat-alat kesenian memang sengaja disimpan dirumahnya, agar tak dimakan rayap. Meski semi permanen, rumah Juhri memang dianggap lebih layak dibanding yang lainnya untuk menyimpan properti jaranan itu.

Beberapa waktu yang lalu, setelah tak lagi bekerja dibengkel, Riyanto putra kedua Juhri sempat berinisiatif memanfaatkan satu kuda kepang, satu gendang berikut pakaian pentas lengkap dengan kacamata hitamnya untuk ‘ngamen’ berkeliling di ruas-ruas jalan di Bandar Lampung.

Bersama seorang temannya, Riyanto mengais dari satu toko ke toko lainnya sembari menari ala kadarnya dengan kuda kepang yang dikepit diselangkangannya, sedang seorang temannya bertugas menalu gendang dan menyodorkan kaleng ke tiap-tiap toko.

Juhri mengijinkan, selain mencari tambahan penghasilan, ia berharap ada yang tertarik untuk mengundang mereka pentas,”sekalian promosi pikir saya, tapi nggak ada juga. Lama-lama berhenti sendiri, anak saya juga malu, bedak juga sudah mau habis”.

Sejak itu, kesenian asli Jawa Timuran ini vakum total. Kuda-kuda kepang itu kini hanya teronggok di tembok rumahnya.

Juhri tak bisa menerka-nerka penyebab layunya kesenian yang mereka punya, hanya saja sejak berbagai hiburan mulai marak di smartphone, kesenian mereka memang mulai tergerus. Padahal, mereka juga sempat jatuh bangun karena masih harus bersaing dengan organ-organ tunggal yang lebih modern dengan biduan-biduan yang berpakaian seksi.

“Kalo’ dibanding dengan organ tunggal, jelas kami kalah. Ya penonton disuruh milih liat orang nari pake kuda kepang laki-laki semua lagi, dibandingin sama biduan yang pakaiannya ketat jogetnya juga panas pasti lebih milih organ tunggal,” tuturnya.

Padahal sejak awal tahun 2000-an hingga 10 tahun berikutnya, kesenian jaranan seperti jaran kepang, jaran buto adalah ‘ancaman’ buat pengusaha organ tunggal.

Kala itu organ tunggal hingga genjut identik dengan minuman keras dan narkoba. Kerusuhan di arena hiburan yang lekat dengan biduan seksi dan sawerannya itu menjadi stigma buruk yang amat melekat.

Sahibul hajat yang khawatir pun berpaling, nanggap wayang semalam suntuk atau ber-jaranan dianggap solusi hiburan lain. Apalagi kala itu, aparat kepolisian memang tegas membatasi jam manggung organ tunggal, alasannya jelas; organ tunggal kerap membuat onar, tempat mabuk-mabukan hingga narkoba, bahkan ketika itu organ tunggal pernah diklaim sebagai hiburan maut.

Di kurun waktu itu, Juhri dan seniman jaranan lain naik daun. Sebulan, ia bisa ditanggap dua hingga tiga kali, posisinya pun tawar, harga ia patok, nego pun sangat tipis,”kalau ditawar tetap ditawar, tapi turunnya nggak jauh-jauh, karena sekali pentas kita itu kan perabotannya banyak, belum lagi yang main jaranan juga banyak, itu belum dihitung pawangnya juga”.

Rumah dan sepeda motor adalah jerihnya ketika itu. Dari hasil berkesenian itu, Juhri bisa membangun rumah berkamar tiga meski tak permanen dengan bagian belakang rumah masih berpapan, anak pun bisa lancar sekolah hingga sekolah menengah atas.

Kini, perlahan kondisi itu berubah 180 derajat. Para ksatria itu merana dalam keterpurukan. Entitas kelompok kecil jathilan ini tak ubahnya anyaman bambu menyerupai kuda yang hanya bisa terpacak disudut tembok dinding rumah. Bergantung kepada apa yang mereka andalkan dahulu menjadi momok buat Juhri dan yang lainnya saat ini.

“Memang kalau di Jawa, berkesenian adalah pelengkap termasuk bermain jathilan ini. Sementara kami disini terlanjur menjadikannya mata pencaharian,” kata Juhri pelan.

Jathilan, Jaran Kepang, Jaran Butho maupun Kuda Lumping adalah pertunjukan asli dari Jawa Timur. Kesenian ini menjadi bagian tak terpisahkan dari Reog. Tarian Kuda ini kerap dianalogikan sebagai ksatria-ksatria yang menunggangi kuda.

Banyak yang menyebut kata ‘jathilan’ adalah akronim dari bahasa Jawa yakni; Jarane Jan Thil-thilan atau kuda yang menari tak beraturan.

Dalam setiap pementasan, jathilan memang identik dengan kerasukan–sebagai puncak pertunjukannya, melalui medium pawang dengan embel-embel ubo rampe seperti kopi maupun kelapa untuk mengundang makhluk halus yang kerap mereka sebut dengan istilah indang. (msr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *